Laporan Khusus: Mi Instan, Lekat dengan Rakyat sejak Pertama Dibuat

Mi Instan, Lekat dengan Rakyat sejak Pertama Dibuat. (Foto: Faisal Fadly/Sariagri)

Editor: Putri - Jumat, 19 Agustus 2022 | 13:00 WIB

Sariagri - Mendengar kata mi instan, hal pertama yang terpikirkan adalah makanan darurat. Mi instan kerap menjadi pilihan jika tidak ada makanan lain yang tersedia, sebagai perbekalan saat kemping atau naik gunung bahkan untuk berhemat.

Untuk berhemat, mi instan dipilih karena harganya yang murah. Karena harganya yang murah itulah mi instan juga disebut sebagai "makanan anak kos." Mi instan juga kerap dipilih untuk makanan cepat saji untuk pengungsi bencana alam.

Oleh sebab itu, bagi masyarakat Indonesia, mi instan mungkin bukan sekadar makanan berharga murah. Bahkan menurut World Instant Noodles Association, Indonesia adalah negara kedua pengonsumsi mi instan terbanyak setelah Cina.

Mi Instan dan Kelas Pekerja

Identitas mi instan yang lekat dengan rakyat sudah ada sejak pertama kali diciptakan. Mengutip BBC, Jepang adalah negara pertama yang menemukan mi instan. Sebelum mi instan diciptakan, Jepang sudah memiliki mi ramen yang terbuat dari gandum.

Mi ramen tradisional dihidangkan dengan kuah kaldu yang dicampur dengan irisan daging atau tahu. Ramen tradisional ini adalah makanan pekerja Jepang yang disajikan dalam semangkuk penuh.

Perang Dunia Kedua mengubah segalanya. Traktat besar Jepang dihancurkan oleh pengeboman. Ketika perang berakhir pada 1945, penduduk Jepang hidup kelaparan.

Seorang pengusaha bernama Momofuku Ando kehilangan kekayaan di negara asalnya Taiwan dan kemudian di Jepang. Dia menghasilkan jutaan uang di bagian industri selama perang, lalu kehilangannya setelah perang berakhir.

Pada satu titik, dia masuk penjara karena penipuan. Dia kemudian menuju bank, namun bank tersebut runtuh. Ando terus berusaha membangun kembali reputasi dan kekayaannya. Satu dekade setelah perang berakhir, salah satu kontak Ando di Kementerian Pertanian Jepang menghubunginya.

Kementerian Pertanian Jepang mengatakan kepadanya bahwa mereka mencari cara agar orang Jepang makan lebih banyak tepung gandum dari AS. Saat itu, Jepang mendapat banyak bantuan tepung gandum dari AS.

Ando ingat sesuatu yang dia lihat di akhir perang, antrean orang-orang yang kelelahan menunggu dengan sabar untuk semangkuk mi ramen. Kemudian Ando mencari versi modern mi ramen untuk kelas pekerja dan bisa cepat dimasak. Selain itu, menggunakan banyak tepung gandum asal AS.

Pada usia 48 tahun, Ando mengubah dirinya menjadi penemu mi instan. Ando mendirikan perusahaan Nissin dan menghasilkan produk mi instan pertama di dunia, Chicken Ramen.

Mi Instan Masuk ke Indonesia

Mengutip jurnal berjudul Gaya Hidup Modern dan Iklan (Budaya Makan Mi Instan sebagai Identitas) oleh Prayanto Widyo Harsanto, tahun 1971 adalah awal dari dari kebudayaan makanan yang diproduksi dari bahan gandum seperti biskuit, mi, dan lain-lain.

Perusahaan Bogasari, salah satu divisi usaha PT Indofood Sukses Makmur, mulai memproduksi dan menyediakan jenis makanan untuk masyarakat Indonesia agar tidak tergantung dengan beras.

Sejak 1970-an Indonesia mengimpor gandum dari AS. Sejak saat itu juga konsumsi terigu di Indonesia meningkat. Terigu diolah sebagai bahan pangan berupa mi basah, mi instan, dan roti. Mi instan di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh PT Lima Satu Sankyu (PT Supermi Indonesia) dan PT Sanmaru Foods Manufacturing Indonesia Ltd.

Konsumsi mi instan di Indonesia. (Foto: Faisal Fadly/Sariagri)
Konsumsi mi instan di Indonesia. (Foto: Faisal Fadly/Sariagri)

Pada 1969, PT Supermi Indonesia meluncurkan mi instan pertama di Indonesia, Supermi. Empat tahun kemudian tepatnya pada 1972, diluncurkanlah merek mi instan kedua di Indonesia, Indomie, olej PT Sanmaru Foods.

Indomie, merek mi instan paling populer di Indonesia, pertama kali diperkenalkan dengan rasa Kaldu Ayam. Kemudian pada 1982, penjualan produk Indomie mengalami peningkatan dengan diluncurkannya varian rasa Kari Ayam.

Puncaknya pada 1983, Indomie kembali semakin digemari oleh masyarakat Indonesia dengan diluncurkannya varian Indomie Mi Goreng. Bahkan Indomie rasa Mi Goreng juga populer di mancanegara.

Gonjang-ganjing Kenaikan Harga Mi Instan

Mi instan sangat lekat dengan imej murah, maka kabar terkait kenaikan harga cukup meresahkan. Pada 10 Agustus 2022, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, memprediksi harga mi instan akan naik. Hal tersebut dikarenakan dampak dari perang Rusia-Ukraina menjadikan produk panganan instan ini naik tiga kali lipat.

Mentan Syahrul mengungkapkan ada 180 juta ton gandum yang tidak bisa keluar imbas adanya perang ini. Belum lagi adanya perubahan iklim yang menjadi masalah bagi banyak petani.

"Belum selesai dengan climate change, kita dihadapkan perang Ukraina-Rusia, di mana ada 180 juta ton gandum tidak bisa keluar, jadi hati-hati yang makan mi banyak dari gandum, besok harganya (naik) 3 kali lipat," kata Mentan Syahrul dalam webinar Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.

Namun sehari setelahnya, pernyataan Mentan Syahrul dibantah keras oleh Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan. Mendag justru mengatakan bahwa kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Rusia dan Ukraina beberapa waktu lalu membawa dampak baik terhadap ketersediaan dan pasokan gandum di Indonesia.

"Presiden pergi ke Rusia dan ternyata berhasil, gandum bebas sekarang. Jadi pasar gandum akan dibanjiri oleh Ukraina. Kemudian Australia panennya berhasil, Kanada berhasil, Amerika berhasil," kata Mendag usai meninjau harga kebutuhan pangan di Pasar Wates, Kulon Progo, Yogyakarta, pada Kamis 11 Agustus 2022.

"Justru menurut saya, gandum pada September akan turun harganya, trennya akan turun. Jadi kalau tiga kali tidak lah, kalau ada kemarin naik sedikit iya. Sehingga, inflasi kita 4 persen, 5 persen jadi naiknya segitu, tapi cenderung September akan turun," tambahnya.

Baca Juga: Laporan Khusus: Mi Instan, Lekat dengan Rakyat sejak Pertama Dibuat
Hanya Diberi Makan Mi Instan, Seorang Pria di India Ceraikan Istrinya

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memang tidak terlalu tergantung dengan gandum Ukraina, melainkan Australia. Impor gandum dan meslin Indonesia mencapai 4,36 juta ton dengan nilai 1,65 miliar dolar AS sepanjang Januari-Mei 2022.

Impor gandum Indonesia dari Australia mencapai 1,57 juta ton dengan nilai 585,6 juta dolar AS dalam 5 bulan pertama 2022. Volume impor gandum Indonesia dari Negeri Kanguru itu mencapai 36 persen dari total impor.

Riset infografis: Rashif Usman

Infografis: Faisal Fadly

Video Terkait