Ogah Tergantung Impor, RI Mulai Kebut Swasembada Gula

Ilustrasi gula. (Antara)

Editor: Dera - Minggu, 14 Agustus 2022 | 10:30 WIB

Sariagri - Tak ingin bergantung pada impor, Indonesia berupaya mewujudkan swasembada gula guna memenuhi kebutuhan gula nasional sebanyak 3,2 juta ton per tahun. 

Meski bukan perkara mudah memenuhi kebutuhan gula rumah tangga dan industri di Tanah Air, namun pemerintah optimis bisa memutus mata rantai impor dengan berbagai cara, di antaranya kolaborasi Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) dengan pabrik gula, baik milik BUMN maupun swasta. 

Seperti diketahui, Indonesia masih mengalami defisit gula sebanyak 850 ribu ton per tahun, sehingga pabrik gula nasional pun terus menggenjot produksi. Namun, peningkatan produksi tak akan bisa terwujud jika lahan perkebunan tebu tak diperluas. 

Perluasan Lahan Tebu

Demi memenuhi target produksi gula agar mampu berswasembada, paling tidak dibutuhkan tambahan 700 ribu hektare lahan tanaman tebu. Hal ini pun masih dalam kajian, apakah lahan tebut tersebut akan ditentukan di wilayah Pulau Jawa atau di luar Pula Jawa. 

Tak hanya soal lahan, pemerintah juga masih mengkaji seberapa besar dana yang dibutuhkan dalam mewujudkan swasembada gula. 

Sementara itu, ID FOOD bersama sejumlah perusahaan BUMN lainnya berkolaborasi membentuk ekosistem pertanian yang sama dengan mitra petani melalui Program Makmur di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Di mana petani nantinya akan mendapatkan pendampingan dan dukungan pupuk, alat pestisida, pendanaan serta asuransi dari sejumlah perusahaan BUMN. Langkah ini pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas petani tebu.

Regulasi Tata Kelola Gula

Selain memperluas lahan tebu, pemerintah juga harus mendukung lahirnya Perpres untuk mempertegas terkait target swasembada produksi gula pada 2025. 

Saat ini, Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) tengah mempersiapkan peraturan itu di bawah koordinasi Menko Perekonomian. NFA juga berkomitmen terus memperkuat industri gula nasional dengan membangun tata kelola gula nasional melalui regulasi yang tepat dan kolaborasi dengan asosiasi dan pelaku usaha.

Melalui Perpres Nomor 66 Tahun 2021, Badan Pangan Nasional diberikan kewenangan untuk merumuskan dan menetapkan kebijakan, seperti stabilisasi harga dan distribusi pangan, penetapan kebutuhan ekspor dan impor pangan, besaran jumlah cadangan pangan pemerintah, serta harga pembelian pemerintah.

Kewenangan ini menjadi pintu masuk bagi NFA untuk berperan aktif melakukan pembenahan tata kelola gula nasional secara in line melalui pola integrasi hulu-hilir yang solid. Salah satunya, dengan rumusan kebijakan penetapan harga acuan penjualan dan harga pembelian (HAP) tingkat petani.

Harga jual gula yang baik di tingkat petani dapat memotivasi petani untuk terus menanam tebu, sehingga suplai bahan baku tebu terjaga. Namun yang menjadi tantangan utama industri gula nasional saat ini adalah keterbatasan bahan baku tebu. Tanpa suplai bahan baku yang memadai, pabrik tidak bisa beroperasi optimal, sehingga menimbulkan produktivitas yang rendah dan inefisiensi.

Pembenahan tata kelola gula nasional tidak akan berjalan tanpa dukungan dan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, khususnya kelompok asosiasi. Untuk komoditas gula, Asosiasi Gula Indonesia (AGI) menjadi mitra strategis dalam memberikan masukan kebijakan terkait gula nasional.

AGI bersama Badan Pangan Nasional Dapat berkolaborasi menjadi penghubung antarpemangku kepentingan guna merumuskan solusi bagi perbaikan industri gula nasional, mulai dari perumusan harga acuan hingga pembenahan on farm dan off farm.

Baca Juga: Ogah Tergantung Impor, RI Mulai Kebut Swasembada Gula
Molase, Pengganti Gula yang Diklaim Lebih Sehat

Tingginya produksi gula saat swasembada gula pada 2025 dan kemungkinan meluber di pasaran sama sekali tidak membuat Badan Pangan Nasional/NFA khawatir, karena produksi gula tersebut, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga untuk ekspor.

Melihat hal tersebut, pemerintah sudah seharusnya berupaya keras mewujudkan swasembada gula agar bisa menekan impor sekaligus mengantisipasi ancaman krisis pangan yang tengah melanda dunia.

Video Terkait