Bahaya Penggunaan Kemasan Plastik Berbahan Bisfenol A yang Harus Diketahui

Ilustrasi wadah kemasan plastik (Pexels)

Editor: Tanti Malasari - Jumat, 12 Agustus 2022 | 15:15 WIB

Sariagri - Penggunaan plastik sangat melekat pada kehidupan manusia sehari-hari. Hampir di semua barang yang ada di rumah berbahan plastik, mulai dari tempat penyimpanan makanan, botol minuman, botol susu, dan masih banyak lagi.

Dikhawatirkan, ke depannya jumlah kemasan yang digunakan akan terus semakin meningkat. Padahal sebenarnya di balik penggunaan kemasan plastic ini, menyimpan segudang ancaman yang bisa mengganggu kesehatan.

Berdasarkan imbauan dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengatakan, sebaiknya manusia tidak abai terhadap jenis serta kandungan yang terdapat pada plastik kemasan untuk makanan dan minuman.

Bahkan data dari Kementerian Perindustrian menyebutkan bahwa setidaknya ada 78 persen industri yang menggunakan plastik sebagai bahan membuat kemasan untuk makanan dan minuman kemasan. Sementara sekitar 16,5 persen sisanya digunakan untuk kemasan minuman berkarbonasi.

Pada dasarnya yang menjadi pesoalan dan menjadi titik krisis keamaan dari kemasan tersebut adalah penggunaan plastik yang mengandung Bisfenol A (BPA) pada kemasan plastik polikarbonat (PC) yang berpotensi berdampak pada kesehatan. 

BPA (Bisphenol A) adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membuat sejenis plastik polikarbonat, sering digunakan untuk FCM (Food Contact Materials) seperti kemasan air galon atau sebagai resin epoksi dalam lapisan pelindung kaleng untuk pangan atau minuman.

Lantas apa bahaya BPA?

Sejumlah penelitian mengatakan bahwa migrasi partikel BPA ke dalam makanan atau minuman yang bersinggungan langsung pada kemasan primernya dapat meningkatkan dampak risiko kesehatan yang timbul dari pemakaian kemasan BPA.

Paparan BPA ini disinyalir dapat mengakibatkan fisiologi yang dikendalikan oleh endokrin, kelenjar prostat dan perkembangan otak pada janin, bayi dan anak-anak. Lebih lanjut, penelitian lain juga menunjukkan kemungkinan hubungan antara BPA dengan peningkatan tekanan darah, diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular.

Cara mengantisipasi

Demi menghindari ancaman kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) kemudian memberikan sejumlah rekomendasi pada pemerintah, industri dan masyarakat terkait BPA pada kemasan plastik. Pertama, yaitu pemberian label. Para produsen dan pelaku industri, wajib mencantumkan ada atau tidak adanya BPA dalam kemasan makanan dan minuman.

Baca Juga: Bahaya Penggunaan Kemasan Plastik Berbahan Bisfenol A yang Harus Diketahui
Apakah Kentang Bisa Diolah jadi Susu? Yuk Simak Penjelasannya

Kedua, memiliki kemasan plastik yang bebas BPA atau BPA Free. Ketiga, jangan gunakan kemasan makanan dan minuman yang terbuat dari plastik hingga berkali-keli dan dalam suhu tinggi. Keempat, produsen dan konsumen sama-sama harus bijak dalam memproduksi dan memilih kemasan plastik untuk melindungi kesehatan masyarakat

Sekilas memang tampak repot. Namun semua cara ini menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi kita semua, agar mendapatkan kualitas hidup yang jauh lebih sehat dan terhindar dari penyakit.


 

Video Terkait