Terlalu Banyak Konsumsi Minyak Kedelai Tidak Baik untuk Kesehatan

Ilustrasi kacang kedelai. (Foto: Pixabay)

Editor: Putri - Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:45 WIB

Sariagri - Minyak nabati termasuk minyak kedelai menjadi konsumsi umum rumah tangga, baik untuk memasak atau tambahan bahan makanan lain. Namun para ahli mengingatkan bahwa mengonsumsi minyak kedelai terlalu banyak tidak baik untuk kesehatan.

Penelitian yang dilakukan oleh University of California di Riverside pada 2015 menunjukkan bahwa konsumsi minyak kedelai yang berlebihan sebenarnya menyebabkan obesitas, diabetes, resistensi insulin, dan perlemakan hati pada tikus.

Mengutip ScienceDaily, Kamis (11/8/2022), meskipun minyak kedelai dimodifikasi menjadi rendah asam linoleat, yang merupakan salah satu komponen utamanya, penelitian selanjutnya oleh kelompok yang sama pada 2017 tetap menunjukkan lebih sedikit obesitas dan resistensi insulin pada tikus.

Tetapi studi tidak berakhir di situ. Tim dari UC Riverside kemudian meneliti hipotalamus tikus yang hidup dengan mengonsumsi minyak kedelai. Saat itulah mereka menemukan bahwa gen tertentu pada tikus "tidak berfungsi dengan benar."

Temuan ini penting karena hipotalamus mengatur berat badan melalui metabolisme tubuh dan menjaga suhu tubuh. "Hal ini sangat penting untuk reproduksi dan pertumbuhan fisik serta respons Anda terhadap stres," kata Margarita Curras-Collazo, penulis utama studi tersebut.

Studi yang dirilis pada jurnal Endocrinology juga menunjukkan bahwa tikus yang hidup dengan diet minyak kedelai mengalami perubahan pada sekitar 100 gen yang bertanggung jawab untuk segala hal. Mulai dari metabolisme hingga fungsi otak yang memicu penyakit seperti autisme atau penyakit Parkinson.

Para peneliti juga menemukan bahwa diet minyak kedelai juga berperan pada penurunan oksitosin atau yang dikenal sebagai hormon "cinta." Namun mereka mengingatkan bahwa penelitian tersebut dilakukan pada tikus jantan, sementara kadar oksitosin lebih penting pada tikus betina.

Selain itu penelitian masih terfokus pada tikus laboratorium, belum dilakukan penelitian lebih lannjut pada manusia. Bisa saja hasilnya terlihat sangat berbeda jika subjek manusia dipelajari. Kelompok peneliti tersebut juga menekankan tidak menemukan bukti bahwa minyak kedelai benar-benar menyebabkan autisme atau penyakit Parkinson.

Satu catatan penting dalam penelitian ini adalah bahwa mereka tidak dapat mengidentifikasi dengan tepat unsur mana dalam minyak kedelai yang menyebabkan perubahan gen pada tikus.

Tetapi Frances Sladek, seorang profesor biologi sel di UC Riverside, percaya bahwa temuan tersebut cukup untuk menunjukkan pemikiran konvensional tentang lemak yang dapat disederhanakan.

Baca Juga: Terlalu Banyak Konsumsi Minyak Kedelai Tidak Baik untuk Kesehatan
5 Cara Menyimpan Susu di Lemari Es agar Tidak Cepat Basi



"Dogmanya adalah lemak jenuh itu buruk dan lemak tak jenuh itu baik. Minyak kedelai adalah lemak tak jenuh ganda, tetapi gagasan bahwa itu (minyak kedelai) baik untuk Anda tidak terbukti," katanya.

Dia bahkan menyarankan agar kita membatasi konsumsi minyak kedelai, karena setiap produk kedelai hanya mengandung sedikit minyak, dan senyawa sehat seperti asam lemak esensial dan protein. 

Video Terkait