Kemiskinan Melonjak Seiring Harga Pangan yang Terus Naik

Harga sayur mayur di pasar Cianjur, Jawa Barat, masih merangkak naik.(Antara Foto/Ahmad Fikri).

Penulis: Yoyok, Editor: Reza P - Senin, 1 Agustus 2022 | 15:00 WIB

Sariagri - Harga pangan di pasaran kian sulit diprediksi untuk stabil. Bahkan, ada kecenderungan akan terus bergejolak sampai titik ekuilibrium baru. 

Harga minyak goreng, misalnya, sudah lebih dari beberapa bulan ini tetap di atas Rp14 ribu per liter. Padahal sudah banyak kebijakan yang dibuat, termasuk mengganti menteri perdagangan.

Kemudian daging sapi. Hingga kini masih di atas Rp120 ribu per kilogram (kg). Menjadi Rp80 ribu atau Rp100 ribu per kg tampaknya sulit sebab masih terkendala pasokan, terutama akibat pengaruh wabah penyakit kuku dan mulut.

Ancaman kenaikan harga kebutuhan pokok juga datang dari komoditas impor, seperti gandum, kedelai, pupuk, hingga energi. Ini terjadi karena konflik berkepanjangan Rusia-Ukraina yang merembet kemana-mana hingga mengancam terjadinya krisis pangan global.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Margo Yuwono, mengingatkan bahwa inflasi Indonesia terus meninggi dengan penyumbang terbesar adalah makanan, yang masuk kelompok bergejolak (volatile goods).

Menurutnya, perkembangan inflasi kelompok bergejolak akan sangat berdampak kepada angka kemiskinan. Sebab, sampai saat ini sekitar 70 persen konsumsi rumah tangga miskin adalah untuk makanan.

"Porsi makanan di garis kemiskinan sekitar 74 persen. Jadi kalau harga pangan tinggi, akan berpengaruh ke garis kemiskinan. Kalau pendapatan tidak naik, akan mempengaruhi garis kemiskinan," jelas Margo di Jakarta, Senin (1/8).

Dia menambahkan terkait perkembangan harga komoditas global, indeks harga komoditas global terlihat sejak Februari sampai Juni baik itu energi, makanan, pupuk, menunjukkan adanya peningkatan. Demikian pula harga pangan, sejak semester I-2022 trennya cenderung mengalami peningkatan.

Margo menjelaskan tingkat kemiskinan juga dipengaruhi oleh naiknya harga komoditas. Beberapa waktu lalu, BPS mencatat komoditas yang mengalami peningkatan dan turut berpengaruh pada garis kemiskinan adalah daging sapi, susu kental manis, minyak goreng, tepung terigu, dan ikan kembung. 

Saat ini garis Kemiskinan pada Maret 2022 tercatat sebesar Rp505.469,00 per kapita pervbulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp374.455,00 (74,08 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp131.014,00 (25,92 persen).

Baca Juga: Kemiskinan Melonjak Seiring Harga Pangan yang Terus Naik
TNI dan Kementerian Pertanian Perkuat Produksi Komoditas Pangan

Pada Maret 2022, secara rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,74 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp2.395.923,00 per rumah tangga miskin per bulan. Jika rata-rata pengeluaran per kapita penduduk miskin lebih kecil dari Garis Kemiskinan maka dikategorikan penduduk miskin. 

"Maka itu, supaya garis kemiskinan tidak naik cepat, maka tugas pemerintah adalah mengatur stabilitas harga supaya tidak naik cepat," ucap Margo.

Video Terkait