Indonesia Siapkan Strategi Jitu Hadapi Krisis Pangan dan Energi

Ilustrasi gabah. (pixabay)

Editor: Dera - Selasa, 26 Juli 2022 | 13:50 WIB

Sariagri - Selain hantaman pandemi COVID-19, krisis pangan dan energi diperparah oleh imbas perang Rusia-Ukraina yang menyebabkan jutaan orang di dunia terancam kelaparan.

Bahkan data FAO (The Food and Agriculture Organization) dan Bank Dunia menyebut, gangguan rantai pasok akibat perang Rusia-Ukraina telah menyebabkan lonjakan harga pangan di seluruh dunia.

Presiden Jokowi pun meminta kepada jajarannya untuk menyiapkan diri dalam menghadapi ketidakpastian global yang dipenuhi ancaman krisis pangan, energi serta inflasi. Pasalnya, International Monetary Fund (IMF) memprediksi ekonomi 60 negara bakal ambruk.

Melihat fenomena yang kian mengkhawatirkan, Indonesia mulai mempersiapkan strategi khusus dalam menghadapi krisis pangan dan energi dengan memperkuat sektor pertanian dan memanfaatkan potensi kelapa sawit dalam negeri. 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengajak seluruh pihak untuk meneguhkan tekad dan semangat untuk pertanian yang lebih baik, maju, mandiri, dan modern. 

Sementara Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Fadli Zon juga mengingatkan akan pentingnya gebrakan inovasi di sektor pertanian secara besar-besaran dalam rangka menghadapi potensi krisis pangan.

Kalangan petani di berbagai daerah tidak boleh dibiarkan hidup dengan 'teknologi pasrah' seperti yang selama ini berjalan. Menurutnya, petani tak mungkin melakukan perubahan sendirian sehingga pemerintah harus campur tangan untuk melahirkan inovasi-inovasi baru.

Hal senada juga dikatakan oleh Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Felippa Ann Amanta, di mana Indonesia perlu melakukan reformasi secara menyeluruh pada kebijakan sektor pertanian untuk mencegah terjadinya krisis pangan.

Di mana konflik geopolitik global yang mempengaruhi kondisi ekonomi dunia, ancaman perubahan iklim dan permasalahan produktivitas membuat Indonesia tidak lepas dari ancaman krisis ini. Pasalnya, sistem pangan cukup kompleks, terdiri dari produksi, distribusi, rantai pasok dan juga perdagangan internasional. 

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menegaskan bahwa minyak sawit bisa menjadi solusi bagi krisis pangan dan energi dunia.

Baca Juga: Indonesia Siapkan Strategi Jitu Hadapi Krisis Pangan dan Energi
Krisi Pangan dan Ketergantungan Impor, DPR: Ganti Gadum dengan Mokaf

Minyak sawit yang juga merupakan edible oil atau vegetable oil berpotensi untuk menjadi solusi penting yang harus dipertimbangkan. Oleh karenanya, negara-negara produsen sawit perlu memanfaatkan momentum meningkatnya permintaan minyak sawit dunia sekaligus terus mendorong pengakuan terhadap daya saing sawit keberlanjutan secara global.

Permintaan minyak sawit diprediksi akan tetap kuat di tahun 2022 dengan terbukanya sektor ekonomi dan perbatasan internasional, terutama di sektor pangan.

Video Terkait