Harga Pangan di Sri Lanka Meroket, Harga Sekilo Labu Capai Rp41.000

Kondisi di Sri Lanka. (Channel News Asia)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 19 Juli 2022 | 17:15 WIB

Sariagri - Inflasi makanan di Sri Lanka mencapai 80,1 persen pada tahun ini hingga Juni, menurut angka resmi. Di toko sayur terdekat, penduduk bahkan harus membayar 2,8 Dolar AS atau sekitar Rp41.000 untuk sekilo labu, dua kali lipat dari tiga bulan lalu.

Pemilik Toko, Ahmad Faizal mengatakan beberapa pelanggannya sekarang membeli hanya 100 gram setiap kali. "Harganya sudah naik. alasan utamanya adalah tidak ada cara mengangkut hasil pertanian dan barang lainnya karena tidak ada bahan bakar," ujarnya, kepada AFP.

Seperti diketahui, kisis ekonomi terburuk di negara itu telah mendorong inflasi yang merajalela dan memicu protes yang pekan lalu menjatuhkan presiden. Kini, warga Sri Langka membeli lebih sedikit makanan dan bekerja lebih sedikit.

Seperti kebanyakan warga Sri Lanka , saat ini Milton Pereira dan keluarganya tidak mampu membeli makanan yang cukup. "Sangat sulit untuk hidup, bahkan sepotong roti pun mahal," kata Pereira kepada AFP di luar rumahnya yang sederhana di Slave Island, sebuah kantong miskin di ibu kota Kolombo.

"Jika kita makan satu, kita melewatkan yang lain," sambungnya.

Dengan 6 anak dalam keluarga, pria yang berusia 74 tahun itu menyampaikan bahwa cara terbaik yang mereka mampu beli dalam beberapa pekan terakhir adalah sesekali ikan, dipotong kecil-kecil untuk semua anggota keluarga.

“Karena kami tidak punya banyak uang, terkadang kami memberikan ikan kepada anak-anak,” katanya. Orang dewasa, tambahnya, "hanya makan kuahnya".

Putra Peirera, BG Rajitkumar, adalah buruh listrik yang sudah berbulan-bulan tidak bekerja. "Harga pangan naik setiap hari. Kenaikan harga eksponensial ini adalah hal paling mengerikan yang pernah saya hadapi," ucapnya.

Baca Juga: Harga Pangan di Sri Lanka Meroket, Harga Sekilo Labu Capai Rp41.000
Tahun Baru? Cicipi Menu Masakan Khas Kalimantan Ini

Tanpa cadangan devisa untuk impor dan telah gagal membayar utang luar negerinya sebesar 51 miliar Dolar AS, Sri Lanka mengalami kekurangan bahan bakar, obat-obatan dan kebutuhan pokok lainnya.

Menurut Program Pangan Dunia, hampir lima juta orang atau 22 persen dari populasi membutuhkan bantuan pangan. Dalam penilaian terbarunya, dikatakan lebih dari lima dari setiap enam keluarga melewatkan makan, makan lebih sedikit atau membeli makanan yang lebih buruk.

Video Terkait